*Kaum Lelaki Harus Mampu Menjadi Pelindung Keluarganya dan Obat Sedih Kaum Perempuan Menurut Al Qur’an

- Jurnalis

Rabu, 15 April 2026 - 17:27 WIB

facebook twitter whatsapp telegram line copy

URL berhasil dicopy

facebook icon twitter icon whatsapp icon telegram icon line icon copy

URL berhasil dicopy

 

 

Medan, risatu.com

Banyak orang menasihati perempuan yang sedang terluka dengan kata “sabar” dan “tawakal”. Namun Al-Qur’an mengajarkan sesuatu yang lebih lembut dan lebih manusiawi: Allah tidak hanya menyuruh hati untuk kuat, tetapi juga menenangkan tubuh yang lelah. Kisah Maryam ‘alaihas salam membuktikan, bahwa kesedihan perempuan bukan sekadar diuji dengan diam, melainkan disembuhkan dengan perhatian, rezeki, dan kebahagiaan yang halal.

 

Ada kalanya perempuan menangis bukan karena kurang iman, tetapi karena hatinya terlalu penuh menampung beban. Ia memendam kecewa, menahan letih, menelan rasa takut, dan memaksa diri tetap tegar demi anak-anak, demi suami, demi orang tua, demi keadaan. Namun manusia, sekuat apa pun, tetap punya batas. Maka Islam bukan agama yang menertawakan tangis. Islam bukan agama yang hanya menyuruh “sabar” tanpa memberi jalan keluar. Justru Islam memuliakan perasaan, mengarahkan air mata, lalu mengobatinya dengan tuntunan yang nyata.

 

Kita sering mendengar nasihat: “Sudah, sabar saja.” Nasihat itu benar. Tetapi kadang sabar menjadi kalimat yang dingin bila diucapkan tanpa empati. Sebab sabar bukan berarti membiarkan seseorang sendirian menghadapi luka. Sabar bukan berarti mengabaikan kebutuhan jiwa dan raga. Dan tawakal bukan berarti pasrah tanpa ikhtiar. Allah mengajarkan bahwa kesedihan harus ditangani dengan iman, tetapi juga dengan sentuhan kasih sayang dan pemenuhan kebutuhan hidup.

 

Lihatlah bagaimana Allah menenangkan seorang perempuan suci yang sedang berada di puncak ketakutan: Maryam ‘alaihas salam. Ia bukan perempuan biasa. Ia wanita pilihan. Ia ahli ibadah. Namun ketika ujian besar menimpanya hamil tanpa suami Maryam tetap manusia. Ia takut. Ia sedih. Ia gelisah. Ia khawatir akan cemoohan dan fitnah manusia. Bahkan ia sampai berkata dengan kalimat yang sangat berat, tanda betapa sesaknya jiwa.

 

Allah mengabadikan momen itu dalam firman-Nya:

فَأَجَاءَهَا الْمَخَاضُ إِلَىٰ جِذْعِ النَّخْلَةِ ۖ قَالَتْ يَا لَيْتَنِي مِتُّ قَبْلَ هَٰذَا وَكُنتُ نَسْيًا مَّنسِيًّا

“Lalu rasa sakit akan melahirkan itu memaksanya (bersandar) pada pangkal pohon kurma. Ia berkata, ‘Wahai, alangkah baiknya aku mati sebelum ini, dan aku menjadi sesuatu yang tidak berarti, lagi dilupakan.’” (QS. Maryam: 23)

 

Perhatikan, seorang wanita mulia pun bisa berkata seperti itu ketika berada dalam tekanan. Artinya, kesedihan bukan tanda lemahnya iman, melainkan bagian dari kemanusiaan. Bahkan orang yang paling dekat kepada Allah pun diuji dengan rasa takut dan gelisah. Tetapi indahnya Islam, Allah tidak membiarkan Maryam tenggelam dalam kesedihan. Allah tidak berkata, “Diamlah, sabarlah.” Allah menghiburnya dengan kelembutan yang menyentuh hati.

 

Allah berfirman:

فَنَادَاهَا مِن تَحْتِهَا أَلَّا تَحْزَنِي قَدْ جَعَلَ رَبُّكِ تَحْتَكِ سَرِيًّا ۝ وَهُزِّي إِلَيْكِ بِجِذْعِ النَّخْلَةِ تُسَاقِطْ عَلَيْكِ رُطَبًا جَنِيًّا ۝ فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا ۖ فَإِمَّا تَرَيِنَّ مِنَ الْبَشَرِ أَحَدًا فَقُولِي إِنِّي نَذَرْتُ لِلرَّحْمَٰنِ صَوْمًا فَلَنْ أُكَلِّمَ الْيَوْمَ إِنسِيًّا

“Maka ia (Jibril) memanggilnya dari tempat yang rendah: ‘Janganlah engkau bersedih hati, sungguh Tuhanmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu. Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan kepadamu kurma yang masak. Maka makanlah, minumlah, dan bersenang hatilah. Jika engkau melihat seorang manusia, katakanlah: Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Tuhan Yang Maha Pengasih, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini.’” (QS. Maryam: 24–26)

Baca Juga :  Rektor dan Civitas Akademika Unimal Evakuasi Ribuan Mahasiswa Terdampak Banjir Aceh Utara

 

Inilah pelajaran besar yang sering luput dari perhatian. Saat Maryam sedih, Allah menenangkan bukan hanya dengan kata-kata, tetapi dengan “hidangan.” Allah hadirkan air, Allah hadirkan kurma, Allah hadirkan energi, lalu Allah berfirman: فَكُلِي وَاشْرَبِي وَقَرِّي عَيْنًا “Makanlah, minumlah, dan tenangkanlah hatimu.” Seakan Allah mengajarkan: kesedihan perempuan bukan hanya disembuhkan dengan ceramah panjang, tetapi juga dengan pemenuhan kebutuhan dasar, perhatian, dan suasana yang menenangkan.

 

Betapa dalamnya makna ayat ini. Makan dan minum bukan sekadar aktivitas fisik. Ia adalah bahasa cinta. Ia adalah bentuk pemulihan. Ia adalah bukti bahwa Allah tidak menuntut manusia menjadi malaikat. Allah tahu bahwa tubuh yang lelah akan memperberat beban jiwa. Maka Islam mengajarkan keseimbangan: kuatkan iman, tetapi jangan abaikan raga.

 

Karena itu, para suami seharusnya memahami bahwa membahagiakan istri bukanlah hal remeh. Bahkan sesuatu yang tampak sederhana seperti mengajak makan di luar, membelikan minuman yang ia suka, atau menyediakan makanan dengan niat memuliakan, dapat menjadi obat sedih yang nyata. Dan lebih dari itu, Allah menilai semua itu sebagai sedekah.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

إِذَا أَنْفَقَ الرَّجُلُ عَلَى أَهْلِهِ نَفَقَةً وَهُوَ يَحْتَسِبُهَا كَانَتْ لَهُ صَدَقَةً

“Jika seorang lelaki menafkahkan harta kepada keluarganya dengan mengharap pahala, maka itu bernilai sedekah baginya.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini bukan sekadar kabar gembira, tetapi tamparan lembut bagi para suami yang pelit perhatian. Banyak lelaki mengira sedekah hanya berarti memberi kepada orang lain. Padahal memberi kepada istri dan anak dengan niat ibadah, nilainya sedekah yang besar. Bahkan dalam hadis lain, Rasulullah ﷺ menegaskan bahwa nafkah terbaik adalah yang diberikan kepada keluarga.

 

Rasulullah ﷺ bersabda:

دِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي سَبِيلِ اللَّهِ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ فِي رَقَبَةٍ، وَدِينَارٌ تَصَدَّقْتَ بِهِ عَلَى مِسْكِينٍ، وَدِينَارٌ أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ، أَعْظَمُهَا أَجْرًا الَّذِي أَنْفَقْتَهُ عَلَى أَهْلِكَ

“Satu dinar yang engkau infakkan di jalan Allah, satu dinar yang engkau infakkan untuk memerdekakan budak, satu dinar yang engkau sedekahkan kepada orang miskin, dan satu dinar yang engkau nafkahkan kepada keluargamu; yang paling besar pahalanya adalah yang engkau nafkahkan kepada keluargamu.” (HR. Muslim)

 

Maka benar, mengajak istri makan dan minum bukan sekadar urusan dunia. Bila diniatkan untuk membahagiakan dan menjaga kehormatan keluarga, itu bernilai ibadah. Bahkan bisa menjadi amal yang lebih berat timbangannya daripada sedekah yang diumumkan. Inilah Islam: agama yang membuat hal sederhana menjadi jalan menuju surga.

 

Allah juga menegaskan bahwa hubungan suami-istri bukan hubungan transaksi, tetapi hubungan ketenangan. Allah berfirman:

وَمِنْ آيَاتِهِ أَنْ خَلَقَ لَكُم مِّنْ أَنفُسِكُمْ أَزْوَاجًا لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا وَجَعَلَ بَيْنَكُم مَّوَدَّةً وَرَحْمَةً ۚ إِنَّ فِي ذَٰلِكَ لَآيَاتٍ لِّقَوْمٍ يَتَفَكَّرُونَ

Baca Juga :  Membanggakan! Atlet Shiroite Nias Selatan Sukses Borong Medali dan Pukau Upacara Hardiknas Ke-67 Tahun

“Dan di antara tanda-tanda (kebesaran)-Nya ialah Dia menciptakan untukmu pasangan dari jenismu sendiri agar kamu merasa tenteram kepadanya, dan Dia menjadikan di antaramu rasa cinta dan kasih sayang. Sungguh pada yang demikian itu terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (QS. Ar-Rum: 21)

 

Kata لِّتَسْكُنُوا إِلَيْهَا mengandung makna “agar kalian merasa tenang.” Jadi rumah tangga bukan sekadar tempat tinggal, melainkan tempat pulang. Jika istri menangis, itu berarti ketenangannya sedang terluka. Maka tugas suami bukan hanya memberi nafkah, tetapi memberi rasa aman. Sebab perempuan sering sedih bukan karena kekurangan uang, melainkan karena kurang dihargai.

 

Namun kabar baiknya, Islam membuka pintu pahala untuk setiap usaha kecil yang dilakukan suami. Bahkan suapan makanan kepada istri pun bernilai sedekah. Rasulullah ﷺ bersabda:

وَإِنَّكَ لَنْ تُنْفِقَ نَفَقَةً تَبْتَغِي بِهَا وَجْهَ اللَّهِ إِلَّا أُجِرْتَ عَلَيْهَا حَتَّى مَا تَجْعَلُ فِي فِي امْرَأَتِكَ

“Sesungguhnya engkau tidak menafkahkan suatu nafkah yang engkau niatkan untuk mencari ridha Allah, melainkan engkau akan diberi pahala atasnya, bahkan sampai suapan yang engkau letakkan ke mulut istrimu.” (HR. Bukhari dan Muslim)

 

Hadis ini menegaskan: romantis dalam Islam bukan sekadar gaya hidup, tetapi ibadah. Suapan kecil bisa jadi pahala besar. Secangkir teh yang dibuat dengan kasih bisa menjadi saksi cinta di hadapan Allah. Mengajak istri makan bersama bisa menjadi jalan menutup pintu pertengkaran. Sebab banyak konflik rumah tangga bukan dimulai dari masalah besar, tetapi dari rasa lelah yang tidak diperhatikan.

 

Maka benar, obat sedih perempuan bukan hanya “sabar dan tawakal.” Itu pondasi, tetapi bukan satu-satunya. Ada obat lain yang Allah ajarkan langsung kepada Maryam: makan, minum, dan tenangkan hati. Perempuan butuh didengar, ditemani, dihargai, dan dipeluk dengan ketulusan. Dan jika suami peka, ia akan memahami bahwa membahagiakan istri bukan pengeluaran sia-sia, melainkan investasi akhirat.

 

Karena itu, wahai para suami, jangan pelit mengajak istri makan. Jangan pelit membelikan minuman kesukaannya. Jangan pelit menemaninya berjalan sekadar membeli jajanan. Jangan merasa itu hal kecil. Sebab bagi perempuan, perhatian kecil sering lebih besar daripada hadiah mahal. Dan bagi Allah, perhatian itu bisa menjadi sedekah yang menghapus dosa.

 

Dan wahai para istri, jika kesedihan datang, jangan merasa imanmu rusak. Menangislah kepada Allah. Adukan isi hati kepada Rabb yang Maha Mendengar. Maryam pun pernah sangat sedih. Namun Allah menolongnya. Allah hadirkan rezeki. Allah hadirkan ketenangan. Maka yakinlah, setiap air mata yang jatuh karena takut kepada Allah, tidak akan sia-sia.

 

Inilah win-win solution yang indah: suami membahagiakan istri dengan makan dan minum, istri merasa dihargai, rumah tangga menjadi hangat, dan Allah mencatatnya sebagai sedekah. Dunia terasa ringan, akhirat pun menjadi tujuan. Semoga kita termasuk keluarga yang saling menguatkan, saling memuliakan, dan saling menjadi jalan menuju ridha Allah. Diana Kusuma

Berita Terkait

‎BNI Pertahankan Rating ESG Global, Kredit Sektor Hijau Terus Tumbuh ‎
Bentengi Generasi dari Radikalisme, Densus 88 Ajak Pemprov Sumut dan Polda Sumut Perkuat Kolaborasi Presisi
Pemuda Asal Nias Utara Butuh Uluran Tangan untuk Biaya Operasi Kepala
Puluhan Mahasiswa Asal NTT Menggelar Aksi Damai di Kampus Universitas Bunda Thamrin
HIPMI Sumut Gelar Rakerda dan Diklatda FORBISDA 2026 di Hotel Mercure, Perkuat SDM Pengusaha Muda
Membanggakan! Atlet Shiroite Nias Selatan Sukses Borong Medali dan Pukau Upacara Hardiknas Ke-67 Tahun
Pelindo Regional 1 Ucapkan Selamat Hari Pendidikan Nasional 2026
Cinta dan Doa Restu Mengalir: Pernikahan Semi–Yerni Jadi Sorotan di Pangkalan Kerinci
Berita ini 10 kali dibaca

Berita Terkait

Selasa, 2 Juni 2026 - 10:59 WIB

‎BNI Pertahankan Rating ESG Global, Kredit Sektor Hijau Terus Tumbuh ‎

Kamis, 14 Mei 2026 - 10:16 WIB

Bentengi Generasi dari Radikalisme, Densus 88 Ajak Pemprov Sumut dan Polda Sumut Perkuat Kolaborasi Presisi

Rabu, 13 Mei 2026 - 19:45 WIB

Pemuda Asal Nias Utara Butuh Uluran Tangan untuk Biaya Operasi Kepala

Kamis, 7 Mei 2026 - 20:13 WIB

Puluhan Mahasiswa Asal NTT Menggelar Aksi Damai di Kampus Universitas Bunda Thamrin

Minggu, 3 Mei 2026 - 11:13 WIB

HIPMI Sumut Gelar Rakerda dan Diklatda FORBISDA 2026 di Hotel Mercure, Perkuat SDM Pengusaha Muda

Berita Terbaru

TNI-POLRI

Polres Binjai Memperingati Hari Lahir Pancasila Tahun 2026

Senin, 1 Jun 2026 - 20:08 WIB